2026, Disdag Kalsel Fokuskan Peningkatan Ekspor dan Perluasan Akses Pasar Luar Negeri

Kadisdag Kalsel, Ahmad Bagiawan.(MC)

BANJARMASIN, KALIMANTAN.NEWS – Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan (Disdag Kalsel) memperoleh tambahan anggaran pada 2026 meski tidak signifikan.

Tambahan anggaran tersebut difokuskan pada kegiatan prioritas, khususnya untuk mendorong peningkatan ekspor daerah serta memperluas akses pasar luar negeri bagi pelaku usaha di Kalsel.

Kadisdag Kalsel, Ahmad Bagiawan, mengatakan penguatan sektor ekspor menjadi salah satu fokus utama sejalan Gubernur Kalsel untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional.

“Di tahun 2026 ini, ada tambahan anggaran sedikit. Namun kami arahkan betul pada kegiatan prioritas, yaitu bagaimana menggalakkan ekspor,” ujarnya di Banjarmasin, Senin (5/1/2026).

Salah satu langkah strategis yang disiapkan Disdag Kalsel adalah rencana pembentukan Export Center sebagai pusat layanan dan fasilitasi ekspor bagi pelaku usaha daerah.

“Kami berharap ke depan memiliki yang namanya export center. Nantinya fasilitas ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha kita untuk memudahkan proses ekspor dan penjualan barang ke luar negeri,” jelas Gia, sapaan akrabnya.

Saat ini, terdapat tujuh komunitas komoditas ekspor yang telah berjalan, di antaranya batu bara, karet, dan rotan.

Selain itu, Disdag Kalsel juga mulai mendorong peluang ekspor dari sektor UMKM yang dinilai memiliki potensi besar.

“Sebenarnya komunitas ekspor kita ada tujuh dan itu sudah berjalan. Tetapi ada beberapa komunitas lain yang ingin kita dorong, terutama dari UMKM. Banyak produk yang sebenarnya punya peluang ekspor,” katanya.

Ia mencontohkan sejumlah komoditas nonkonvensional yang memiliki nilai jual di pasar internasional, seperti sabut kelapa, belut, hingga lidi dari daun kelapa sawit.

“Contoh kecil saja, sabut kelapa itu sebenarnya bisa diekspor. Belut atau walut dulu dipandang sepele, ternyata di luar negeri keuntungannya sangat menggiurkan. Bahkan lidi dari daun kelapa sawit pun bisa diekspor. Ini yang akan kita berikan pemahaman kepada masyarakat,” tuturnya.

Terkait pembinaan UMKM, Ahmad Bagiawan menyebutkan bahwa pendampingan teknis masih banyak dilakukan oleh perangkat daerah lain. Disdag Kalsel lebih berperan pada aspek pemasaran dan penjualan.

“UMKM itu identik dengan dinas lain yang membina. Kami di perdagangan ini lebih ke ujungnya, bagaimana menjualnya. Pembinaannya memang belum terlalu dalam,” ungkapnya.

Ke depan, Disdag Kalsel berencana memanfaatkan tambahan anggaran tersebut untuk menggelar temu pelaku usaha sebagai sarana edukasi dan peningkatan pemahaman praktis terkait ekspor.

“Anggarannya memang tidak besar, tapi kami berharap ilmu yang didapat pelaku usaha nanti manfaatnya sangat besar untuk mereka,” katanya.(MC/en/KN)

#disdag kalsel

Baca Juga