
KALIMANTAN NEWS – Anak pertama sering kali tumbuh dengan identitas sebagai “panutan” di keluarga.
Mereka diminta untuk lebih mandiri, lebih dewasa, bahkan lebih sabar dibanding adik-adiknya.
Namun, di balik kelebihan itu, ada sisi rapuh yang sering tak terlihat. Kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Anak Pertama (first-born syndrome).
Sindrom anak pertama adalah kecenderungan psikologis di mana anak sulung merasa memiliki beban tanggung jawab lebih besar daripada saudara lainnya.
Table of Contents
ToggleMereka sering berperan sebagai “second parent” yang ikut menjaga adik, menjadi contoh, hingga menengahi konflik dalam keluarga.
Akibatnya, anak sulung kerap mengembangkan sifat:
Menurut penelitian dari Journal of Individual Psychology (2020), 60 persen anak sulung lebih sering melaporkan stres terkait peran keluarga dibanding anak tengah maupun bungsu.
Sementara American Psychological Association (APA) juga mencatat bahwa anak sulung lebih rentan mengalami kecemasan, overthinking, dan perfeksionisme.