
KALIMANTAN NEWS — Perselingkuhan bukan sekadar pengkhianatan cinta.
Ia adalah peristiwa kompleks yang mengguncang otak, emosi, dan identitas seseorang.
Pertanyaan besar yang sering muncul adalah “apakah pelaku selingkuh bisa benar-benar berubah?”
Atau selingkuh hanyalah pola perilaku yang akan terus berulang, meskipun sudah berjanji untuk setia?
Menurut berbagai jurnal psikologi, tidak semua perselingkuhan muncul karena sifat bawaan “tukang selingkuh”. Ada faktor yang memengaruhi, antara lain:
Pelaku merasa kurang dihargai, tidak didengarkan, atau kesepian dalam hubungan.
Sebagian orang selingkuh untuk membuktikan bahwa dirinya masih menarik atau diinginkan.
Tekanan sosial, kesempatan, hingga pengaruh teman sebaya bisa memperbesar peluang selingkuh.
Ada orang yang lebih impulsif karena faktor hormonal atau cara kerja otaknya.