Apakah Selingkuh Bisa Disembuhkan? Berikut Jawaban Ilmu Psikologi

Ilustrasi Perselingkuhan Sumber: Pinterest.com

Aneh tapi nyata, sebagian pelaku merasa lebih “hidup” dari risiko ketahuan.

  1. Empati yang Menurun

Untuk bisa terus selingkuh, otak pelaku sering menumpulkan empati.

Mereka membenarkan perilakunya, misalnya dengan berkata “pasangan juga salah” atau “ini cuma main-main”.

Meski begitu, otak manusia fleksibel. Dengan terapi kognitif, konseling, dan komitmen pribadi, pola otak bisa dilatih ulang.

Rasa puas yang dulu dicari lewat hubungan terlarang bisa dialihkan pada hubungan yang sehat, aman, dan membahagiakan.

Kalau pelaku bisa saja berubah, bagaimana dengan korban?

Faktanya, luka psikologis akibat selingkuh seringkali lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Beberapa dampak umum yang tercatat dalam penelitian:

  1. Hilangnya rasa aman. Korban merasa dunia yang tadinya stabil hancur seketika.
  2. Trauma emosional. Korban bisa mengalami kecemasan, sulit tidur, bahkan gejala mirip PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).
  3. Konflik batin berkepanjangan. Ada dilema antara bertahan karena cinta atau pergi demi harga diri.
  4. Insecure dan meragukan diri sendiri. Banyak korban bertanya, “Apa aku tidak cukup baik? Apa aku yang salah?”

Penyembuhan korban seringkali lebih panjang dibanding proses rehabilitasi pelaku.

Dukungan sosial, konseling psikolog, dan waktu yang cukup sangat dibutuhkan agar luka benar-benar pulih.

Bisakah Hubungan Dipulihkan?

Tidak ada jawaban tunggal. Beberapa pasangan berhasil melewati fase gelap ini, bahkan hubungan jadi lebih kuat karena belajar komunikasi jujur.

Halaman: 1 2 3 4
Baca Juga