
Aneh tapi nyata, sebagian pelaku merasa lebih “hidup” dari risiko ketahuan.
Untuk bisa terus selingkuh, otak pelaku sering menumpulkan empati.
Mereka membenarkan perilakunya, misalnya dengan berkata “pasangan juga salah” atau “ini cuma main-main”.
Meski begitu, otak manusia fleksibel. Dengan terapi kognitif, konseling, dan komitmen pribadi, pola otak bisa dilatih ulang.
Rasa puas yang dulu dicari lewat hubungan terlarang bisa dialihkan pada hubungan yang sehat, aman, dan membahagiakan.
Faktanya, luka psikologis akibat selingkuh seringkali lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.
Beberapa dampak umum yang tercatat dalam penelitian:
Penyembuhan korban seringkali lebih panjang dibanding proses rehabilitasi pelaku.
Dukungan sosial, konseling psikolog, dan waktu yang cukup sangat dibutuhkan agar luka benar-benar pulih.
Tidak ada jawaban tunggal. Beberapa pasangan berhasil melewati fase gelap ini, bahkan hubungan jadi lebih kuat karena belajar komunikasi jujur.