
KALIMANTAN NEWS — Perselingkuhan bukan sekadar pengkhianatan cinta.
Ia adalah peristiwa kompleks yang mengguncang otak, emosi, dan identitas seseorang.
Pertanyaan besar yang sering muncul adalah “apakah pelaku selingkuh bisa benar-benar berubah?”
Atau selingkuh hanyalah pola perilaku yang akan terus berulang, meskipun sudah berjanji untuk setia?
Menurut berbagai jurnal psikologi, tidak semua perselingkuhan muncul karena sifat bawaan “tukang selingkuh”. Ada faktor yang memengaruhi, antara lain:
Pelaku merasa kurang dihargai, tidak didengarkan, atau kesepian dalam hubungan.
Sebagian orang selingkuh untuk membuktikan bahwa dirinya masih menarik atau diinginkan.
Tekanan sosial, kesempatan, hingga pengaruh teman sebaya bisa memperbesar peluang selingkuh.
Ada orang yang lebih impulsif karena faktor hormonal atau cara kerja otaknya.
3. Bersedia mengikuti konseling atau terapi pasangan.
4. Konsisten membangun ulang komunikasi dan kepercayaan.
Namun, penelitian juga mencatat, orang yang pernah selingkuh memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengulanginya.
Terutama jika motifnya berasal dari dorongan sensasi atau adrenalin, bukan hanya masalah hubungan.
Jadi, meski ada kemungkinan sembuh, risikonya tetap besar jika tidak ada usaha serius.
Neurosains Juga menjelaskan kenapa selingkuh bisa terasa begitu sulit dihentikan.
Ada beberapa hal yang terjadi di otak pelaku di antaranya:
Saat menjalani hubungan terlarang, otak melepaskan dopamin dalam jumlah tinggi.
Ini menimbulkan rasa euforia, mirip seperti orang yang sedang kecanduan narkoba atau judi.
Bagian otak yang bertugas mengontrol logika dan pertimbangan jangka panjang melemah ketika dorongan hasrat dan emosi lebih dominan.
Akibatnya, pelaku mengambil keputusan instan tanpa memikirkan dampak besar.
Menyembunyikan hubungan justru menimbulkan ketegangan yang memacu adrenalin.
Aneh tapi nyata, sebagian pelaku merasa lebih “hidup” dari risiko ketahuan.
Untuk bisa terus selingkuh, otak pelaku sering menumpulkan empati.
Mereka membenarkan perilakunya, misalnya dengan berkata “pasangan juga salah” atau “ini cuma main-main”.
Meski begitu, otak manusia fleksibel. Dengan terapi kognitif, konseling, dan komitmen pribadi, pola otak bisa dilatih ulang.
Rasa puas yang dulu dicari lewat hubungan terlarang bisa dialihkan pada hubungan yang sehat, aman, dan membahagiakan.
Faktanya, luka psikologis akibat selingkuh seringkali lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.
Beberapa dampak umum yang tercatat dalam penelitian:
Penyembuhan korban seringkali lebih panjang dibanding proses rehabilitasi pelaku.
Dukungan sosial, konseling psikolog, dan waktu yang cukup sangat dibutuhkan agar luka benar-benar pulih.
Tidak ada jawaban tunggal. Beberapa pasangan berhasil melewati fase gelap ini, bahkan hubungan jadi lebih kuat karena belajar komunikasi jujur.
Namun, banyak juga yang memilih berpisah karena luka terlalu dalam.
Kunci keberhasilan pemulihan biasanya terletak pada:
Jadi Apakah selingkuh bisa disembuhkan? Ya, bisa.
Tapi jalan menuju kesembuhan panjang, rumit, dan tidak selalu berhasil.
Pelaku butuh kesadaran penuh, komitmen dan usaha konsisten.
Korban juga butuh ruang untuk sembuh, dengan atau tanpa pelaku tetap di sisinya.
Pada akhirnya, kesetiaan bukan hanya janji, tapi pilihan yang diperbarui setiap hari.
Setia berarti melatih otak, hati, dan logika untuk tidak mencari kebahagiaan instan, melainkan membangun cinta yang tahan uji.(*/KN)
Editor: Zulvan R