
KALIMANTAN NEWS – Banyak orang merasa ada yang kurang kalau makan tidak sambil menonton YouTube, scroll TikTok, atau menyalakan drama favorit.
Tapi hati-hati, kebiasaan yang tampak sepele ini ternyata punya dampak besar pada kesehatan fisik dan mental.
Penelitian internasional mencatat, sekitar 30 persen remaja rutin makan sambil menonton TV minimal sekali seminggu.
Angkanya bahkan melonjak jadi 45 persen ketika berbicara soal ngemil.
Artinya, hampir separuh anak muda sudah terbiasa dengan pola makan yang ditemani layar.
Makan sambil menonton bukan cuma soal “kurang fokus”.
Para ahli menemukan ada banyak mekanisme tubuh yang terganggu ketika perhatian kita teralihkan oleh layar:
Otak tak lebih lambat memberi tanda bahwa perut sudah penuh, sehingga makan jadi berlebihan.
Distraksi layar membuat orang cenderung mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak tanpa sadar.
Risiko obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung meningkat.
Seringkali kebiasaan ini berlanjut jadi binge-watching hingga larut malam. Kurang tidur berkaitan erat dengan stres, kelelahan, dan depresi.
Alih-alih bercengkerama dengan keluarga, perhatian justru tertuju pada layar. Isolasi sosial seperti ini bisa memicu rasa kesepian.
Studi menunjukkan, makan sambil terdistraksi membuat orang merasa “ada yang kurang” sehingga lebih mudah ngemil lagi setelahnya.
Dampak jangka panjang. Jika terus-menerus dilakukan, otak terbiasa mencari hiburan eksternal untuk melawan bosan.
Akibatnya, kemampuan mengatur emosi berkurang dan risiko depresi makin besar:
Sebuah laporan menyebut, orang yang rutin makan sambil menonton punya peluang hingga tiga kali lebih besar mengalami gejala depresi dibanding mereka yang makan dengan tenang.
Walau temuan ini masih butuh penelitian lanjutan, para pakar menilai wajar jika distraksi layar ikut menyeret kesehatan mental—dari pola tidur, emosi, sampai interaksi sosial.
Selain depresi, pola makan sambil menonton juga erat kaitannya dengan:
Diet buruk, karena lebih mudah memilih makanan cepat saji.
Kurang tidur berpotensi dapat merusak produktivitas sehari-hari.
Sulit memang meninggalkan kebiasaan ini, apalagi bagi mereka yang sering makan sendirian.
Tapi ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba:
3. Gunakan momen makan untuk ngobrol dengan keluarga atau teman.
4. Kalau tetap ingin menonton, pilih tontonan singkat agar tidak berlanjut jadi binge-watching.
Makan sambil menonton memang terasa menyenangkan, tapi risikonya nyata.
Dari makan berlebihan, pola tidur berantakan, hingga meningkatnya risiko depresi, semua bisa dipicu oleh distraksi layar.
Jadi, cobalah sekali-sekali makan tanpa gawai.
Dengan begitu, tubuh lebih sehat, pikiran lebih tenang, dan momen makan jadi lebih bermakna.(*/KN)
Editor: Zulvan R