KALIMANTAN NEWS — Pernah nggak kamu ketemu cewek yang super mandiri, tegas, kariernya oke banget dan kayaknya nggak gampang goyah?
Nah, itu biasanya ciri wanita dengan energi maskulin yang kuat.
Tapi maskulin di sini bukan soal penampilan atau cara berpakaian, melainkan tentang energi atau pola sifat.
Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, punya dua sisi maskulin (logis, tegas, terarah) dan feminin (lembut, menerima, intuitif).
Table of Contents
ToggleBedanya, pada sebagian orang, salah satunya bisa lebih dominan
Untuk banyak wanita, energi maskulin jadi modal besar. Dampaknya ke hubungan pun bisa sangat positif seperti
Bayangin kalau kamu punya pasangan yang bisa diajak mikir bareng, ambil keputusan bareng, bahkan saling dorong buat berkembang. Sounds ideal, kan?
Tapi jika energi maskulin terlalu dominan, bisa muncul gesekan. Beberapa contohnya:
Akhirnya, hubungan bisa berubah jadi arena kompetisi, bukan kolaborasi.
Pasangan sama-sama maskulin. Cewek ambisius dan cowok dominan sering bentrok soal hal kecil mulai dari cara mengatur keuangan sampai siapa yang lebih sibuk. Cintanya ada, tapi egonya juga besar.
Maskulin bertemu feminin. Cewek tegas dan fokus ketemu cowok yang lebih fleksibel dan sabar. Hasilnya? Seimbang. Cewek jadi pengarah, cowok jadi penyejuk. Hubungan terasa harmonis, saling isi kekosongan.
Energi maskulin pada wanita bukan sesuatu yang salah.
Justru itu kekuatan luar biasa. Tapi dalam hubungan, kuncinya ada di keseimbangan.
Kadang kita perlu jadi tegas, kadang perlu jadi lembut.
Kadang memimpin, kadang memberi ruang untuk dipimpin.
Hubungan sehat bukan soal siapa lebih maskulin atau feminin, tapi bagaimana keduanya bisa saling melengkapi.(*/KN)
Editor: Ipik G