
Banyak pengguna mengeluhkan tidak bisa melakukan siaran langsung, terutama saat ingin melaporkan situasi unjuk rasa yang sedang berlangsung.
Pantauan kalimantan.news di platform X (dulu Twitter), tagar #Dibungkam langsung menjadi trending.
Beberapa pengguna menyebut hilangnya fitur tersebut sebagai bentuk upaya membatasi suara publik.
Sejumlah influencer ikut menyuarakan protes, salah satunya akun @pitengz2.0 yang viral melalui unggahan TikTok.
Ia menduga upaya pembatasan media sosial sudah diberlakukan.
“Gue kerja di e-commerce dan tiba-tiba nggak bisa live lagi. Tolong sebarkan ke keluarga kalian, please stay safe. Gue takut banget terjadi darurat militer. Dan gue juga nggak tahu apakah video ini bisa naik atau nggak,” tulis @pitengz2.0 belum lama ini.
Namun, berbeda dengan anggapan publik, pihak pemerintah menegaskan tidak ada pembatasan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memastikan bahwa pemerintah tidak menginstruksikan pemblokiran atau pembatasan akses media sosial selama aksi demonstrasi.
“Tidak ada pembatasan media sosial. Masyarakat tetap bisa mengakses dan menyuarakan pendapatnya. Pemerintah hanya mengingatkan agar konten yang dibagikan tidak bersifat provokatif,” jelas Wakil Menteri Kemkomdigi Nezar Patria, dikutip dari laman resmi InfoPublik.
Sementara itu, penjelasan berbeda datang dari pihak TikTok.
Mengutip laporan Reuters, perusahaan induk TikTok, ByteDance sukarela menonaktifkan fitur Live di Indonesia untuk beberapa hari ke depan.