BANJARMASIN-KALIMANTAN.NEWS
DARI masalah sosial, ekonomi, politik, demokrasi, kebebasan hingga minimnya kritik kontrol dari media massa, jadi topik hangat dan menarik dalam fokus diskusi yang digelar, manajemen jejakrekam.com, di Cangkir Coffee, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Minggu (4/1/2026).
Diskusi sekaligus selamatan HUT ke-9 jejakrekam.com tahun 2026 ini, dihadiri sederet tokoh dari berbagai disiplin ilmu dan profesi diantaranya, Prof Muhammad Uhaib As’ad; Prof. Dr. H M Hadin Muhjad, S.H., M.Hum; Dr Taufik Arbain, S.Sos M.Si; Praktisi hukum, Fauzan Ramon SH MH; dr Meldy Muzada Elfa, Sp. PD., K-Ger., FINASIM., MM Koordinator Ambin Demokrasi Kalsel, Noorhalis Majid; H Sarbani Haira; Dr Nasrullah Ar; Subhan Syarif dan Haris Makie; Ketua PWI Kalsel, Zainal Helmi, dan pimpinan asosiasi media massa dan pimpinan media massa serta lainya.
Dalam diskusi bertajuk “Peran Pemilik Media Dalam Menjaga Independensi Jurnalistik dan Menegakan Suara Kebenaran”, Pakar politik, Muhammad Uhaib As’ad, dapat kesempatan bicara dan mengungkapkan sepak-terjang oligarki zaman sekarang sudah melebihi VOC saat zaman penjajahan dahulu. Menurutnya, sedahsyat dan biadabnya VOC tidak ada yang mengkapling lahan hutan, laut dan lainya.
“Sampai, saat ini saya belum menemukan data kalo VOC zaman penjajahan dahulu dapat menguasai lahan puluhan ribu hektar, Tapi oligarki nasional dan lokal saat ini bisa menguasai lahan sangat banyak,” tandasnya dengan nada tinggi.
Sementara, lanjut dosen senior dari Universitas Islam Kalimantan Banjarmasin ini, hasilnya hanya dinikmati segelintir mereka. Sedang rakyat sendiri, hanya menjadi gembel, dan banyak menjadi tenaga kerja TKI keluar negeri.
Kemudian, dari penguasaan lahan oleh oligarki-oligarki ini mereka kelola untuk berbagai usaha. Maka kerusakan lingkungan pun berpotensi tercipta, hingga dampaknya merugikan masyarakat luas.
Ia mencontohkan bencana banjir bandang di Sumatera belum lama ini, yang begitu dahsyat terjadi hingga menelan banyak korban.
“Ada beberapa media massa yang kritis memberitakan malah diancam dan diintimidasi. Maunya yang diberitakan itu hanya yang bagus dan baik-baik saja. Jadi ini kondisi demokrasi di kita,”
Satu sisi lanjutnya, banyak pula media massa yang hanya mementingkan periuknya sendiri, hingga lupa tugas sebagai kontrol sosial yang semestinya.
Padahal media massa adalah wadah harapan untuk bisa memberitakan isu-isu penting dan substansi untuk mendorong kemajuan pembangunan yang sesungguhnya, tapi sulit dan harus media yang mana? “Jadi kita harus memilih media massa yang bisa dipercaya,” pungkas Uhaib sosok yang dikenal kritis dan kerap memberikan analisis tentang politik lokal dan nasional.
Sementara, mantan wartawan senior dan mantan pimpinan NU di H Sarbani Haira, tak ingin megenarlisir penduduk Indonesia yang jumlahnya 285 juta.
Menurutnya, menang ada segelintir orang atau kelompok anggota berprilaku tidak baik, seperti, koruptor, KKN dan nepostime yang masih tumbuh. Namun Ia optimis, seiring waktu berjalan bisa saja semua Indonesia menjadi berubah lebih baik yang tentunya, pers harus terus mengawal menyampaikan meneruskan risalah yang sudah di ajarkan Rasulullah.
“Jadi kalo saya berpendapat, memang ada sedikit orang tidak baik yang mencuat, tapi kita ambil hikmahnya, dan berupaya agar lebih baik lagi, tentunya pers harus tetap mengawal,” kata Sarbani Haira.
Menyikapi perkembangan pers saat ini, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalsel, Ansari, mengakui menjamurnya perusahan pers online yang tumbuh saat ini.
Hal itu menurutnya, merupakan konsekwensi logis dari perubahan teknologi infomasi, sehingga harus ada pula regulasi spesifik yang mengatur.
Sementara Taupik Arbain,S.Sos M.Si
yang merupakan akademisi dari ULM Banjarmasin, lebih memilih ambil jalan tengah, yang sedikit mudaratnya ketimbang yang banyak mudaratnya.
“Saya sebagai akademisi tentu harus dapat memposisikan diri dan saya ambil jalan tengah. Artinya mengambil risiko yang lebih sedikit mudaratnya,” ucap pria yang cukup banyak duduk di organisasi ini.
Berkait pers, mantan staf khusus gubernur periode lalu ini, juga kerap merasakan pengalaman dilematis berkait berita pemberitaan pers.
“Belum lama kemarin saya menulis tentang “Purbaya sang Koboi” dan sempat tayang di salah satu media mainstream. Tapi beberapa hari terbit, tulisan itu hilang alias di takedone,” tandas Taufik Arbain yang juga dikenal sebagai Datuk Cendikia Hikmadiraja Kesultanan Banjar ini.
HUT ke-9 dan Fokus diskusi yang juga sekaligus mengenang pendiri jejakrekam.com, almarhum, Didi Gunawan ini, Koordinator Ambin Demokrasi Kalsel, Noorhalis Majid, mengaku sangat kehilangan sosok jurnalis yang berintegritas konsisten menulis secara mendalam dan tuntas.
“Kita sangat kehilangan. Dia (alam Didi Gunawan) kalo menulis berita itu dalam dan sampai tuntas,” kata Majid.
Saat ini menurutnya ada banyak wartawan, bahkan hampir ribuan, tapi kebanyakan tulisannya hanya sekilas dan jarang ada yang mengkritik tajam berbagai kebijakan yang merugikan masyarakat.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalsel, Zainal Helmi, tak menampik arus perubahan teknologi informasi mengubah paradigma dan permorma media massa, di seluruh dunia.
Menurutnya media massa saat ini terbagi tiga, yaitu, cetak, eletronik (radio dan televisi, media online) dan media sosial(medsos).
“Nah inilah tugas media massa mainstrem, online untuk memerangi media sosial yang konten-kontennya tidak jelas,” kata dia.
Untuk di Kalsel lanjut Helmi, terdapat sekitar 450 wartawan resmi, yang sudah mengenyam sekolah jurnalistik dan mendapatkan sertifikat uji kompetensi.
” Itu adalah wartawan resmi, yang selain pandai menulis juga dibekali dengan kode prilaku wartawan. Jadi ini yang benar-benar wartawan, diluar itu bukan wartawan,” tegas Helmi.
Bicara independen dan idealisme, Helmi yang suka owner klikkalsel.com, ini, menyatakan pihak manajemen tetap mengetengahkan azaz berimbang dan proporsional.
Sebab, lanjut ia, perusahan media juga harus memikirkan keberlangsungan hidup anak isteri si wartawan.
Sedang Komisaris Utama PT Jejakrekam.com, Dr Subhan Syarif, mengatakan terus berupaya kearah perbaikan internal maupun eksternal khususnya dalam mendorong pemberitaan berkualitas dan tetap kritis bagi medianya.
Menjelang satu dekade jejakrekam.com, menurutnya, akan melakukan terobosan melalui kegiatan edukasi jurnalistik ke sekolah-sekolah menengah maupun kampus-kampus. “Tahun 2026 ini juga kegiatan ini yang akan jejakrekam laksanakan,” pungkasnya.(pik)