
Hidup dalam situasi penuh gosip, kritik, atau drama membuat otak kita terbiasa siaga. Akibatnya, lebih sulit menjaga jarak emosional.
Banyak yang mengira cuek sama dengan dingin, kasar, atau tidak peduli sama sekali.
Padahal, menurut studi tentang emotion regulation flexibility, cuek lebih tepat dipahami sebagai selektif memberi energi, menentukan kapan harus merespons dan kapan cukup diam.
Pada dasarnya kegagalan bersikap cuek biasanya bukan karena kita lemah, tapi karena strategi emosi yang digunakan belum tepat.
Bayangkan kamu sedang melihat masalah dari layar TV. Dengan begitu, emosi tidak terlalu mendominasi.
Tidak semua orang atau masalah pantas mendapat perhatianmu.