Ingin Bersikap Cuek Tapi Sering Gagal, Ternyata Ini 5 Penyebabnya

ilustrasi sikap cuek.
  1. Lingkungan yang “Ribut”

Hidup dalam situasi penuh gosip, kritik, atau drama membuat otak kita terbiasa siaga. Akibatnya, lebih sulit menjaga jarak emosional.

  1. Ekspektasi yang Salah Tentang Cuek

Banyak yang mengira cuek sama dengan dingin, kasar, atau tidak peduli sama sekali.

Padahal, menurut studi tentang emotion regulation flexibility, cuek lebih tepat dipahami sebagai selektif memberi energi, menentukan kapan harus merespons dan kapan cukup diam.

Self-Distancing / Detachment

  1. Menurut penelitian Drajan,  teknik self-distancing atau melihat diri sendiri seolah dari sudut pandang orang ketiga dapat membantu mengurangi dampak emosi negatif.  Artinya, kegagalan cuek sering terjadi karena kita terlalu tenggelam dalam situasi.
  2. Regulatory Flexibility, George Bonanno menjelaskan bahwa kemampuan memilih strategi emosi sesuai konteks (regulatory flexibility) jauh lebih sehat daripada hanya mengandalkan satu strategi, misalnya menekan perasaan atau pura-pura dingin.
  3. Psychological Detachment & Self-Compassion, menunjukkan bahwa detachment dari masalah (misalnya pekerjaan) ditambah dengan sikap penuh kasih pada diri sendiri (self-compassion) mampu mencegah kelelahan emosional dan depresi (BMC Psychology, 2023).
  4. Affect Labeling, atau menamai emosi yang sedang dirasakan (contoh: “Aku merasa kesal”) terbukti mengurangi intensitas emosional dan menurunkan aktivitas amigdala (bagian otak yang terkait rasa marah atau takut).

Pada dasarnya kegagalan bersikap cuek biasanya bukan karena kita lemah, tapi karena strategi emosi yang digunakan belum tepat.

Cara Agar Lebih Mudah Bersikap Cuek

  1. Latih Self-Distancing

Bayangkan kamu sedang melihat masalah dari layar TV. Dengan begitu, emosi tidak terlalu mendominasi.

  1. Kenali Batas Energi

Tidak semua orang atau masalah pantas mendapat perhatianmu.

  1. Gunakan Self-Talk Positif

Halaman: 1 2 3
Baca Juga