Ingin Bersikap Cuek Tapi Sering Gagal, Ternyata Ini 5 Penyebabnya

ilustrasi sikap cuek.

KALIMANTAN NEWS – Banyak orang ingin terlihat bersikap cuek, alias tidak terlalu peduli pada komentar negatif, drama, atau omongan orang.

Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu.

Ada yang baru berniat diam, eh malah kepikiran terus.

Ada pula yang ingin menahan diri agar terlihat “dingin”, tapi akhirnya tetap merespons dengan emosi. Mengapa bisa begitu?

Penyebab Kenapa Sulit Bersikap Cuek

  1. Terlalu Peduli pada Penilaian Orang

Jika pikiran masih dipenuhi pertanyaan “apa kata mereka”, maka sulit untuk betul-betul masa bodoh.

Orang yang overthinking biasanya paling mudah gagal dalam bersikap cuek.

  1. Kepribadian Sensitif

Bagi orang dengan tingkat empati tinggi, sikap cuek terasa tidak alami.

Dorongan untuk membela diri atau memberi respons sering kali lebih kuat.

  1. Kurangnya Kemampuan Regulasi Emosi

Cuek sebenarnya bukan berarti tidak punya perasaan, tapi soal mengendalikan respon.

Penelitian psikologi menjelaskan bahwa regulasi emosi melibatkan strategi seperti reappraisal (mengubah cara pandang) atau detachment (mengambil jarak secara mental).

Jika keterampilan ini belum terlatih, kita akan mudah terbawa suasana.

  1. Lingkungan yang “Ribut”

Hidup dalam situasi penuh gosip, kritik, atau drama membuat otak kita terbiasa siaga. Akibatnya, lebih sulit menjaga jarak emosional.

  1. Ekspektasi yang Salah Tentang Cuek

Banyak yang mengira cuek sama dengan dingin, kasar, atau tidak peduli sama sekali.

Padahal, menurut studi tentang emotion regulation flexibility, cuek lebih tepat dipahami sebagai selektif memberi energi, menentukan kapan harus merespons dan kapan cukup diam.

Self-Distancing / Detachment

  1. Menurut penelitian Drajan,  teknik self-distancing atau melihat diri sendiri seolah dari sudut pandang orang ketiga dapat membantu mengurangi dampak emosi negatif.  Artinya, kegagalan cuek sering terjadi karena kita terlalu tenggelam dalam situasi.
  2. Regulatory Flexibility, George Bonanno menjelaskan bahwa kemampuan memilih strategi emosi sesuai konteks (regulatory flexibility) jauh lebih sehat daripada hanya mengandalkan satu strategi, misalnya menekan perasaan atau pura-pura dingin.
  3. Psychological Detachment & Self-Compassion, menunjukkan bahwa detachment dari masalah (misalnya pekerjaan) ditambah dengan sikap penuh kasih pada diri sendiri (self-compassion) mampu mencegah kelelahan emosional dan depresi (BMC Psychology, 2023).
  4. Affect Labeling, atau menamai emosi yang sedang dirasakan (contoh: “Aku merasa kesal”) terbukti mengurangi intensitas emosional dan menurunkan aktivitas amigdala (bagian otak yang terkait rasa marah atau takut).

Pada dasarnya kegagalan bersikap cuek biasanya bukan karena kita lemah, tapi karena strategi emosi yang digunakan belum tepat.

Cara Agar Lebih Mudah Bersikap Cuek

  1. Latih Self-Distancing

Bayangkan kamu sedang melihat masalah dari layar TV. Dengan begitu, emosi tidak terlalu mendominasi.

  1. Kenali Batas Energi

Tidak semua orang atau masalah pantas mendapat perhatianmu.

  1. Gunakan Self-Talk Positif

Ingatkan diri “Komentar orang tidak menentukan nilainya diriku.”

  1. Alihkan Fokus

Daripada memikirkan kata orang, arahkan energi pada hal yang bikin kamu berkembang.

  1. Latih Fleksibilitas Emosi

Belajarlah kapan harus cuek, kapan perlu bicara. Inilah kunci cuek yang sehat.

Bersikap cuek bukan berarti kehilangan perasaan, melainkan kemampuan mengatur emosi secara cerdas.

Menurut psikologi, kunci utamanya adalah detachment, fleksibilitas, dan self compassion.

Jika sering gagal, itu tanda kamu masih butuh latihan dalam mengelola emosi bukan berarti tidak bisa.

Dengan strategi yang tepat, kamu bisa jadi pribadi yang lebih tenang, tidak mudah terpancing, dan hanya peduli pada hal-hal yang benar-benar penting.(*/KN)

Editor: Zulvan R

 

Baca Juga