
KALIMANTAN NEWS – Banyak orang ingin terlihat bersikap cuek, alias tidak terlalu peduli pada komentar negatif, drama, atau omongan orang.
Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu.
Ada yang baru berniat diam, eh malah kepikiran terus.
Ada pula yang ingin menahan diri agar terlihat “dingin”, tapi akhirnya tetap merespons dengan emosi. Mengapa bisa begitu?
Jika pikiran masih dipenuhi pertanyaan “apa kata mereka”, maka sulit untuk betul-betul masa bodoh.
Orang yang overthinking biasanya paling mudah gagal dalam bersikap cuek.
Bagi orang dengan tingkat empati tinggi, sikap cuek terasa tidak alami.
Dorongan untuk membela diri atau memberi respons sering kali lebih kuat.
Cuek sebenarnya bukan berarti tidak punya perasaan, tapi soal mengendalikan respon.
Penelitian psikologi menjelaskan bahwa regulasi emosi melibatkan strategi seperti reappraisal (mengubah cara pandang) atau detachment (mengambil jarak secara mental).
Jika keterampilan ini belum terlatih, kita akan mudah terbawa suasana.
Hidup dalam situasi penuh gosip, kritik, atau drama membuat otak kita terbiasa siaga. Akibatnya, lebih sulit menjaga jarak emosional.
Banyak yang mengira cuek sama dengan dingin, kasar, atau tidak peduli sama sekali.
Padahal, menurut studi tentang emotion regulation flexibility, cuek lebih tepat dipahami sebagai selektif memberi energi, menentukan kapan harus merespons dan kapan cukup diam.
Pada dasarnya kegagalan bersikap cuek biasanya bukan karena kita lemah, tapi karena strategi emosi yang digunakan belum tepat.
Bayangkan kamu sedang melihat masalah dari layar TV. Dengan begitu, emosi tidak terlalu mendominasi.
Tidak semua orang atau masalah pantas mendapat perhatianmu.
Ingatkan diri “Komentar orang tidak menentukan nilainya diriku.”
Daripada memikirkan kata orang, arahkan energi pada hal yang bikin kamu berkembang.
Belajarlah kapan harus cuek, kapan perlu bicara. Inilah kunci cuek yang sehat.
Bersikap cuek bukan berarti kehilangan perasaan, melainkan kemampuan mengatur emosi secara cerdas.
Menurut psikologi, kunci utamanya adalah detachment, fleksibilitas, dan self compassion.
Jika sering gagal, itu tanda kamu masih butuh latihan dalam mengelola emosi bukan berarti tidak bisa.
Dengan strategi yang tepat, kamu bisa jadi pribadi yang lebih tenang, tidak mudah terpancing, dan hanya peduli pada hal-hal yang benar-benar penting.(*/KN)
Editor: Zulvan R