
KALIMANTAN NEWS – Menurut Kamus Besar Istilah Kedokteran, ketindihan atau sleep paralysis adalah kondisi ketika seseorang sudah sadar, tetapi tidak bisa bergerak maupun berbicara.
Fenomena ini biasanya muncul di peralihan antara tidur dan bangun, berlangsung beberapa detik hingga menit.
Secara sains, ketindihan muncul karena adanya miskomunikasi antara otak dan tubuh.
Saat fase tidur REM, otak mematikan sementara otot tubuh agar kita tidak bergerak mengikuti mimpi.
Pada kasus sleep paralysis, otak terbangun lebih dulu, sedangkan tubuh masih dalam kondisi lumpuh.
Di sinilah peran penjaga tidur kita (sistem otak) yang mengatur kapan tubuh harus rileks dan kapan harus aktif.
Jika sistem ini telat bekerja, jadilah kita sadar tapi tubuh masih “terkunci”.
Jurnal Sleep Medicine Reviews menyebutkan pemicunya antara lain kelelahan, stres, kurang tidur, dan posisi tidur telentang.
Halodoc menambahkan insomnia, kecemasan, serta gangguan tidur seperti narcolepsy juga bisa meningkatkan risiko.
Dari sudut pandang psikologi, ketindihan sering dikaitkan dengan kecemasan dan stres emosional.
Orang dengan tingkat stres tinggi atau gangguan kecemasan lebih rentan mengalaminya.
Halusinasi merasa ditindih, mendengar suara, atau melihat sosok menakutkan muncul karena otak masih dalam mode mimpi, sementara kesadaran sudah aktif.