Ini Alasan Ilmiah Ketindihan Saat Tidur Terjadi, Ada Peran Penjaga Tidur?

Ilustrasi ketindihan. Sumber: Pinterest

KALIMANTAN NEWS – Menurut Kamus Besar Istilah Kedokteran, ketindihan atau sleep paralysis adalah kondisi ketika seseorang sudah sadar, tetapi tidak bisa bergerak maupun berbicara.

Fenomena ini biasanya muncul di peralihan antara tidur dan bangun, berlangsung beberapa detik hingga menit.

Kenapa Ketindihan Bisa Terjadi?

Secara sains, ketindihan muncul karena adanya miskomunikasi antara otak dan tubuh.

Saat fase tidur REM, otak mematikan sementara otot tubuh agar kita tidak bergerak mengikuti mimpi.

Pada kasus sleep paralysis, otak terbangun lebih dulu, sedangkan tubuh masih dalam kondisi lumpuh.

Di sinilah peran penjaga tidur kita  (sistem otak) yang mengatur kapan tubuh harus rileks dan kapan harus aktif.

Jika sistem ini telat bekerja, jadilah kita sadar tapi tubuh masih “terkunci”.

Jurnal Sleep Medicine Reviews menyebutkan pemicunya antara lain kelelahan, stres, kurang tidur, dan posisi tidur telentang.

Halodoc menambahkan insomnia, kecemasan, serta gangguan tidur seperti narcolepsy juga bisa meningkatkan risiko.

Bagaimana Menurut Psikologi?

Dari sudut pandang psikologi, ketindihan sering dikaitkan dengan kecemasan dan stres emosional.

Orang dengan tingkat stres tinggi atau gangguan kecemasan lebih rentan mengalaminya.

Halusinasi merasa ditindih, mendengar suara, atau melihat sosok menakutkan muncul karena otak masih dalam mode mimpi, sementara kesadaran sudah aktif.

Psikolog menilai kondisi ini bisa mencerminkan perasaan tertekan atau ketidakmampuan menghadapi masalah, sehingga termanifestasi dalam bentuk “paralisis” (kelumpuhan sementara) di alam tidur.

Cara Bangun Saat Ketindihan

  1. Tetap tenang, jangan panik.
  2.  Fokus pada pernapasan perlahan.
  3. Gerakkan bagian tubuh kecil, seperti jari tangan atau kaki.
  4. Bayangkan tubuh bergerak untuk “memanggil penjaga tidur” agar tubuh aktif kembali.
  5. Duduk atau goyangkan kepala perlahan untuk memulihkan kendali penuh.

Tips Mengurangi Risiko Ketindihan

  1. Tidur 6–8 jam dan bangun pada waktu yang sama setiap hari.
  2. Hindari tidur telentang, lebih baik menyamping.
  3. Kurangi stres dan cemas dengan meditasi, pernapasan dalam, atau musik santai.
  4. Hindari kafein dan alkohol beberapa jam sebelum tidur.
  5. Ciptakan lingkungan tidur nyaman
  6. Konsultasi dengan profesional jika ketindihan sering terjadi; terapi perilaku kognitif (CBT) bisa direkomendasikan.

Ketindihan bukanlah hal mistis, melainkan keterlambatan otak dan tubuh dalam berkoordinasi, ditambah faktor psikologis seperti stres dan kecemasan.

Walaupun terasa menakutkan, kondisi ini tidak berbahaya.

Menjaga pola tidur teratur, mengurangi stres, serta menghindari tidur telentang bisa membantu menurunkan risikonya.(*/KN)

Editor: Zulvan R

Baca Juga