
KALIMANTAN NEWS – Tubuh manusia ternyata menyimpan banyak rahasia yang tidak pernah berhenti membuat para ilmuwan kagum.
Berbagai jurnal kedokteran dan penelitian resmi membuktikan bahwa organ tubuh kita bekerja jauh lebih hebat daripada yang terlihat.
Berikut sepuluh fakta unik tubuh manusia yang jarang diketahui orang:
Menurut penelitian dari Salk Institute yang terbit di jurnal eLife, kapasitas memori otak manusia diperkirakan mencapai skala petabytes.
Table of Contents
ToggleAngka ini setara dengan seluruh internet dunia dan jauh melampaui perkiraan lama.
Penelitian dalam Journal of Forensic Dental Sciences menyebutkan bahwa setiap orang memiliki “cetak lidah” berbeda, bahkan pada kembar identik.
Karena sifat unik ini, lidah dipertimbangkan sebagai salah satu biometrik masa depan.
Menurut ulasan di jurnal Physiological Reviews (2022), usus manusia memiliki sistem saraf enterik (ENS) dengan ratusan juta neuron.
Sistem ini bisa bekerja secara mandiri, mengatur pergerakan dan sekresi usus tanpa harus selalu menunggu perintah otak.
Penelitian yang dipublikasikan di Trends in Neurosciences mengungkapkan bahwa mikrobiota usus berperan besar dalam memengaruhi otak.
Hubungan ini dikenal dengan sebutan gut-brain axis, yang menjelaskan kaitan pencernaan dengan suasana hati hingga kesehatan mental.
Menurut Annual Review of Physiology, ENS tidak hanya bertugas menggerakkan usus.
Sistem saraf ini juga berperan dalam melindungi tubuh dari infeksi dengan mengatur barier usus agar lebih kuat.
Penelitian menggunakan fMRI yang dimuat dalam Frontiers in Human Neuroscience menegaskan bahwa manusia menggunakan seluruh bagian otak, meski dengan fungsi yang berbeda-beda.
Mitos bahwa otak hanya bekerja 10% sudah tidak berlaku lagi.
Studi yang terbit di PNAS menyebutkan bahwa keberagaman bentuk dan ukuran sinaps memungkinkan otak menyimpan memori jauh lebih besar.
Peneliti menyebut kapasitas memori bisa meningkat secara eksponensial.
Menurut ulasan di Physiological Reviews, kerusakan atau gangguan pada ENS berkaitan erat dengan penyakit pencernaan seperti iritable bowel syndrome (IBS) hingga inflamasi kronis pada usus.
Artikel di Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology menjelaskan bahwa teknologi optogenetik dan kemogenetik sedang dikembangkan untuk mengendalikan ENS.
Harapannya, metode ini bisa menjadi solusi baru untuk gangguan pencernaan yang sulit diobati.
Menurut Journal of Allergy and Clinical Immunology, ENS berfungsi sebagai penghubung antara saraf, sel epitel, dan sistem imun.
Peran ini sangat penting dalam menjaga keseimbangan tubuh agar tetap sehat.
Menurut para ahli, penelitian soal organ tubuh tidak akan pernah berhenti, sebab selalu ada hal baru yang bisa terungkap.(*/KN)
Editor: Zulvan R