
KALIMANTAN NEWS — Selingkuh bukan lagi hal asing dalam dinamika hubungan, baik pacaran maupun pernikahan.
Banyak orang menganggap hal itu murni masalah kesetiaan, padahal menurut psikologi, perilaku ini bisa berakar dari masalah pribadi yang lebih dalam, bahkan berkaitan dengan gangguan psikologis tertentu.
Secara umum, hal itu terjadi ketika seseorang merasa kebutuhan emosional atau fisiknya tidak terpenuhi dalam hubungan.
Misalnya, pasangan yang merasa kurang dihargai atau sering diabaikan bisa mencari pelarian pada orang lain.
Namun, ada pula yang melakukan hal tersebut meski hubungannya terlihat baik-baik saja.
Menurut Journal of Sex Research, salah satu faktor kuat yang mendorongnya adalah rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
Artinya, masalah bukan hanya terletak pada pasangan, melainkan ada konflik batin yang belum terselesaikan.
Psikologi menjelaskan bahwa selingkuh bisa menjadi cerminan dari masalah kepribadian atau gangguan psikologis, antara lain:
5. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa jadi bukan sekadar “kurang cinta”, melainkan sinyal adanya luka batin atau gangguan psikologis yang tidak disadari.
Perselingkuhan hampir selalu menimbulkan luka mendalam, baik bagi korban maupun pelaku.
Beberapa dampak psikologis yang umum terjadi antara lain:
Kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu kali perselingkuhan. Hubungan jadi rapuh, penuh kecurigaan, dan sulit kembali seperti semula.
2. Rasa cemas dan trauma emosional
Korban sering mengalami kecemasan berlebih, flashback, bahkan gejala mirip PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).
Mereka bisa merasa takut untuk menjalin hubungan baru atau membuka hati lagi.
3. Siklus konflik berulang yang sulit diselesaikan
Biasanya cheating meninggalkan luka yang terus terbawa dalam interaksi sehari-hari.
Pertengkaran bisa terjadi berulang kali, bahkan setelah pasangan mencoba memaafkan.
4. Menyebabkan korban meragukan harga dirinya (insecure)
Banyak korban yang akhirnya menyalahkan diri sendiri, merasa tidak cukup baik, atau mempertanyakan nilai dirinya.
Perasaan insecure ini bisa merusak kesehatan mental dan menurunkan kepercayaan diri dalam jangka panjang.
Bagi pelaku, perselingkuhan juga tidak selalu membawa kebahagiaan.
Banyak yang justru merasa bersalah, hampa, atau makin tidak puas karena masalah utamanya tetap tidak terselesaikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, Indonesia mencatat 516 ribu kasus perceraian.
Dari jumlah tersebut, 11,6 persen di antaranya disebabkan oleh perselingkuhan, baik dari pihak suami maupun istri.
Angka ini menunjukkan bahwa selingkuh bukan masalah sepele, melainkan faktor serius yang memengaruhi keutuhan rumah tangga.
Jika selingkuh dipicu luka batin atau gangguan psikologis, penting mencari bantuan profesional.
Terapi bisa membantu membentuk pola yang lebih sehat.
Bicara jujur tentang kebutuhan emosional dan rasa tidak nyaman dapat menjadi langkah awal memperbaiki hubungan.
Menjaga jarak sehat dengan orang lain di luar pasangan adalah cara mencegah godaan berkembang.
Fokus pada keintiman, rasa saling menghargai, dan kebersamaan. Hubungan yang sehat jadi benteng utama melawan perselingkuhan.
Jika konflik berulang, konseling pasangan bisa membantu mengurai akar masalah dan mencari solusi lebih konstruktif.
Jadi, selingkuh bukan hanya sekadar masalah cinta atau kesetiaan. Dari kacamata psikologi, ini bisa jadi alarm adanya luka batin atau gangguan kepribadian yang perlu diperhatikan lebih serius.(*/KN)
Editor: Zulvan R