Selingkuh: Masalah Hubungan atau Gangguan Psikologis?

Ilustrasi pasangan terdampak perselingkuhan.

KALIMANTAN NEWSSelingkuh bukan lagi hal asing dalam dinamika hubungan, baik pacaran maupun pernikahan.

Banyak orang menganggap hal itu murni masalah kesetiaan, padahal menurut psikologi, perilaku ini bisa berakar dari masalah pribadi yang lebih dalam, bahkan berkaitan dengan gangguan psikologis tertentu.

Mengapa Orang Selingkuh?

Secara umum, hal itu terjadi ketika seseorang merasa kebutuhan emosional atau fisiknya tidak terpenuhi dalam hubungan.

Misalnya, pasangan yang merasa kurang dihargai atau sering diabaikan bisa mencari pelarian pada orang lain.

Namun, ada pula yang melakukan hal tersebut meski hubungannya terlihat baik-baik saja.

Menurut Journal of Sex Research, salah satu faktor kuat yang mendorongnya adalah rasa tidak puas terhadap diri sendiri.

Artinya, masalah bukan hanya terletak pada pasangan, melainkan ada konflik batin yang belum terselesaikan.

Sebagai Tanda Masalah Psikologis

Psikologi menjelaskan bahwa selingkuh bisa menjadi cerminan dari masalah kepribadian atau gangguan psikologis, antara lain:

  1. Narsistik atau merasa layak mendapatkan perhatian lebih dari siapa pun.
  2. Impulsif, sulit mengendalikan dorongan sesaat termasuk godaan dari luar.
  3. Ketergantungan emosional, Ingin selalu mencari validasi, sehingga mudah tergoda oleh orang baru.
  4. Borderline Personality Disorder (BPD), intensitas emosi yang ekstrem membuat seseorang cepat merasa bosan atau tersakiti, lalu mencari pelampiasan lain.

5. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa jadi bukan sekadar “kurang cinta”, melainkan sinyal adanya luka batin atau gangguan psikologis yang tidak disadari.

Dampak pada Hubungan

Perselingkuhan hampir selalu menimbulkan luka mendalam, baik bagi korban maupun pelaku.

Beberapa dampak psikologis yang umum terjadi antara lain:

  1. Hilangnya kepercayaan

Kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu kali perselingkuhan. Hubungan jadi rapuh, penuh kecurigaan, dan sulit kembali seperti semula.

2. Rasa cemas dan trauma emosional

Korban sering mengalami kecemasan berlebih, flashback, bahkan gejala mirip PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

Mereka bisa merasa takut untuk menjalin hubungan baru atau membuka hati lagi.

3. Siklus konflik berulang yang sulit diselesaikan

Biasanya cheating meninggalkan luka yang terus terbawa dalam interaksi sehari-hari.

Pertengkaran bisa terjadi berulang kali, bahkan setelah pasangan mencoba memaafkan.

4. Menyebabkan korban meragukan harga dirinya (insecure)

Banyak korban  yang akhirnya menyalahkan diri sendiri, merasa tidak cukup baik, atau mempertanyakan nilai dirinya.

Perasaan insecure ini bisa merusak kesehatan mental dan menurunkan kepercayaan diri dalam jangka panjang.

Bagi pelaku, perselingkuhan juga tidak selalu membawa kebahagiaan.

Banyak yang justru merasa bersalah, hampa, atau makin tidak puas karena masalah utamanya tetap tidak terselesaikan.

Data BPS

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, Indonesia mencatat 516 ribu kasus perceraian.

Dari jumlah tersebut, 11,6 persen di antaranya disebabkan oleh perselingkuhan, baik dari pihak suami maupun istri.

Angka ini menunjukkan bahwa selingkuh bukan masalah sepele, melainkan faktor serius yang memengaruhi keutuhan rumah tangga.

Solusi Praktis Menghadapi dan Mencegah Selingkuh

  1. Kenali akar masalah pribadi

Jika selingkuh dipicu luka batin atau gangguan psikologis, penting mencari bantuan profesional.

Terapi bisa membantu membentuk pola yang lebih sehat.

  1. Komunikasi terbuka dengan pasangan

Bicara jujur tentang kebutuhan emosional dan rasa tidak nyaman dapat menjadi langkah awal memperbaiki hubungan.

  1. Bangun batasan diri

Menjaga jarak sehat dengan orang lain di luar pasangan adalah cara mencegah godaan berkembang.

  1. Tingkatkan kualitas hubungan

Fokus pada keintiman, rasa saling menghargai, dan kebersamaan. Hubungan yang sehat jadi benteng utama melawan perselingkuhan.

  1. Cari dukungan profesional

Jika konflik berulang, konseling pasangan bisa membantu mengurai akar masalah dan mencari solusi lebih konstruktif.

Jadi, selingkuh bukan hanya sekadar masalah cinta atau kesetiaan. Dari kacamata psikologi, ini bisa jadi alarm adanya luka batin atau gangguan kepribadian yang perlu diperhatikan lebih serius.(*/KN)

Editor: Zulvan R

Baca Juga