Sindrom Anak Pertama: Mandiri Sejak Dini, Rentan Stres di Kemudian Hari

Ilustrasi Anak Pertama Dengan Tanggung Jawab Adik -Adiknya

KALIMANTAN NEWSAnak pertama sering kali tumbuh dengan identitas sebagai “panutan” di keluarga.

Mereka diminta untuk lebih mandiri, lebih dewasa, bahkan lebih sabar dibanding adik-adiknya.

Namun, di balik kelebihan itu, ada sisi rapuh yang sering tak terlihat. Kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Anak Pertama (first-born syndrome).

Apa Itu Sindrom Anak Pertama?

Sindrom anak pertama adalah kecenderungan psikologis di mana anak sulung merasa memiliki beban tanggung jawab lebih besar daripada saudara lainnya.

Mereka sering berperan sebagai “second parent” yang ikut menjaga adik, menjadi contoh, hingga menengahi konflik dalam keluarga.

Akibatnya, anak sulung kerap mengembangkan sifat:

  1. Mandiri sejak dini
  2. Perfeksionis
  3. Bertanggung jawab berlebihan
  4. Cenderung sulit meminta bantuan

Data Statistik dan Fakta Psikologis

Menurut penelitian dari Journal of Individual Psychology (2020), 60 persen anak sulung lebih sering melaporkan stres terkait peran keluarga dibanding anak tengah maupun bungsu.

Sementara American Psychological Association (APA) juga mencatat bahwa anak sulung lebih rentan mengalami kecemasan, overthinking, dan perfeksionisme.

Di Indonesia, survei oleh Halodoc (2023) menunjukkan bahwa banyak anak sulung mengalami gejala burnout karena merasa harus jadi jembatan komunikasi antara orangtua dan adik-adiknya.

Perbandingan dengan Anak Tengah dan Bungsu

  1. Anak Pertama

Mandiri, disiplin, sering memikul tanggung jawab besar. Tapi rentan stres, perfeksionis, dan merasa bersalah kalau gagal.

  1. Anak Tengah

Fleksibel, pandai menengahi konflik, punya keterampilan sosial tinggi. Namun bisa merasa terabaikan atau “kurang spesial”.

  1. Anak Bungsu

Lebih bebas, ceria, sering dimanja. Tapi cenderung lebih sulit mandiri dan tidak terbiasa dengan tekanan berat.

Dari perbandingan ini terlihat, anak pertama lebih cepat dewasa, anak tengah lebih adaptif, dan anak bungsu lebih ekspresif.

Dampak Psikologis Sindrom Anak Pertama

  1. Perfeksionisme berlebihan. Takut salah, takut gagal, sehingga mudah stres.
  2. Kecemasan sosial. Merasa harus selalu memberi contoh baik.
  3. Burnout emosional. Lelah karena merasa tidak punya ruang untuk jadi “anak kecil”.
  4. Rasa bersalah yang tinggi. Bahkan ketika ingin istirahat, sering merasa egois.

Pendapat Ahli

Psikolog keluarga Dr. Kevin Leman (penulis The Birth Order Book) menyebut anak sulung sebagai “miniatur orangtua”, karena sering dipaksa lebih cepat dewasa.

Hal ini membentuk kepribadian mandiri, tapi juga berisiko menimbulkan tekanan batin.

Sementara menurut Dr. Catherine Salmon, anak pertama biasanya berorientasi pada pencapaian dan lebih perfeksionis dibanding saudara lainnya.

Jika tidak diimbangi dukungan emosional, mereka bisa tumbuh dengan tingkat stres yang tinggi.

Cara Mengatasi Sindrom Anak Pertama

  1. Belajar berkata “tidak” – tidak semua tanggung jawab harus kamu ambil.
  2. Menghargai diri sendiri – bukan hanya lewat prestasi, tapi juga dengan istirahat dan self-care.
  3. Berani meminta bantuan – tidak berarti lemah, justru tanda sehat secara emosional.
  4. Berkomunikasi dengan keluarga – jujur soal perasaan agar tidak terus memendam.

Menjadi anak pertama memang penuh dengan tanggung jawab, tapi ingatlah kamu juga berhak merasa lelah, salah, bahkan dimanja.

Kamu tidak harus selalu kuat setiap saat. Karena pada akhirnya, menjadi “panutan” bukan berarti harus kehilangan kebahagiaanmu sendiri.(*/KN)

Editor: Zulvan R

Baca Juga