
KALIMANTAN NEWS – Anak pertama sering kali tumbuh dengan identitas sebagai “panutan” di keluarga.
Mereka diminta untuk lebih mandiri, lebih dewasa, bahkan lebih sabar dibanding adik-adiknya.
Namun, di balik kelebihan itu, ada sisi rapuh yang sering tak terlihat. Kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Anak Pertama (first-born syndrome).
Sindrom anak pertama adalah kecenderungan psikologis di mana anak sulung merasa memiliki beban tanggung jawab lebih besar daripada saudara lainnya.
Table of Contents
ToggleMereka sering berperan sebagai “second parent” yang ikut menjaga adik, menjadi contoh, hingga menengahi konflik dalam keluarga.
Akibatnya, anak sulung kerap mengembangkan sifat:
Menurut penelitian dari Journal of Individual Psychology (2020), 60 persen anak sulung lebih sering melaporkan stres terkait peran keluarga dibanding anak tengah maupun bungsu.
Sementara American Psychological Association (APA) juga mencatat bahwa anak sulung lebih rentan mengalami kecemasan, overthinking, dan perfeksionisme.
Di Indonesia, survei oleh Halodoc (2023) menunjukkan bahwa banyak anak sulung mengalami gejala burnout karena merasa harus jadi jembatan komunikasi antara orangtua dan adik-adiknya.
Mandiri, disiplin, sering memikul tanggung jawab besar. Tapi rentan stres, perfeksionis, dan merasa bersalah kalau gagal.
Fleksibel, pandai menengahi konflik, punya keterampilan sosial tinggi. Namun bisa merasa terabaikan atau “kurang spesial”.
Lebih bebas, ceria, sering dimanja. Tapi cenderung lebih sulit mandiri dan tidak terbiasa dengan tekanan berat.
Dari perbandingan ini terlihat, anak pertama lebih cepat dewasa, anak tengah lebih adaptif, dan anak bungsu lebih ekspresif.
Psikolog keluarga Dr. Kevin Leman (penulis The Birth Order Book) menyebut anak sulung sebagai “miniatur orangtua”, karena sering dipaksa lebih cepat dewasa.
Hal ini membentuk kepribadian mandiri, tapi juga berisiko menimbulkan tekanan batin.
Sementara menurut Dr. Catherine Salmon, anak pertama biasanya berorientasi pada pencapaian dan lebih perfeksionis dibanding saudara lainnya.
Jika tidak diimbangi dukungan emosional, mereka bisa tumbuh dengan tingkat stres yang tinggi.
Menjadi anak pertama memang penuh dengan tanggung jawab, tapi ingatlah kamu juga berhak merasa lelah, salah, bahkan dimanja.
Kamu tidak harus selalu kuat setiap saat. Karena pada akhirnya, menjadi “panutan” bukan berarti harus kehilangan kebahagiaanmu sendiri.(*/KN)
Editor: Zulvan R