Survival Mode Wanita? Ini Kaitannya dengan Fatherless

ILUSTRASI: Energi dalam pasangan harus seimbang.

KALIMANTAN NEWS – Pernah kah kamu bertemu wanita yang kelihatan super mandiri, selalu bisa berdiri sendiri, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun?

Dari luar tampak kuat, tapi kalau ditelisik lebih dalam, mereka sering hidup dalam survival mode selalu siaga, tidak pernah benar-benar santai dan diam-diam lelah.

Salah satu akar dari pola ini bisa jadi adalah fatherless atau tumbuh tanpa kehadiran atau figur ayah yang aman.

Bagi banyak wanita, ketiadaan ayah (baik secara fisik maupun emosional) meninggalkan ruang kosong.

Dari kecil, mereka belajar mandiri sejak dini, selalu waspada dan memyebabkan krisis kepercayaan pada pasangan.

Seperti yang dijelaskan Ellis & Garber (2000), ketiadaan ayah sering kali memicu stres keluarga dan menurunkan rasa aman anak, yang akhirnya berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.

Alhasil, mereka membangun benteng kuat di sekeliling diri.

Bukan karena ingin terlihat keras, tapi karena kondisi hidup memaksa mereka untuk selalu siap bertahan.

Kenapa wanita fatherless cenderung hidup dalam survival mode?

1. Harus kuat sendiri, sejak kecil tidak ada tempat aman untuk bergantung.

2. Takut ditinggalkan, membuat mereka selalu siaga agar nggak “jatuh” lagi.

3. Kesulitan menerima cinta, kehadiran orang yang tulus kadang terasa asing.

4. Over-achiever, membuktikan diri lewat prestasi, tapi rentan burnout.

McLanahan, Tach, & Schneider (2013) bahkan menyebutkan bahwa dampak fatherless tidak hanya terbatas pada masa kanak-kanak.

Akan tetapi berlanjut hingga dewasa, memengaruhi hubungan interpersonal dan kepercayaan diri.

Survival mode ini bikin mereka terlihat hebat, tapi sering kali kebahagiaan pribadi jadi taruhannya.

Dampak dalam Kehidupan Dewasa

Dalam hubungan, bisa tampak dingin atau terlalu mandiri.

Padahal sebenarnya butuh kasih sayang, hanya saja sulit mempercayai.

Dalam karier bisa jadi sukses, produktif, tapi gampang lelah karena energi habis untuk bertahan, bukan menikmati.

Namun Dalam diri sendiri, sering merasa kosong, walau dari luar tampak baik-baik saja.

Sarkadi et al. (2008) menemukan bahwa kehadiran ayah yang suportif berhubungan positif dengan perkembangan emosi dan rasa aman anak.

Ketika hal ini hilang, dampaknya bisa terasa sampai dewasa.

Berita baiknya, pola ini bisa diputus. Beberapa langkah yang bisa ditempuh:

1. Inner healing, sadari bahwa luka masa lalu membentuk kita, tapi tidak harus mengendalikan masa depan.

2. Re-parenting diri sendiri, jadilah figur ayah/ibu yang aman untuk diri sendiri lewat self-love, validasi, dan perlindungan.

3. Belajar menerima support, mulai dari hal kecil, izinkan orang lain hadir.

4. Bangun hubungan sehat, dengan memilih lingkungan atau pasangan yang bisa jadi “tempat aman”.

5. Terapi psikologis, untuk membantu mengurai trauma lama yang susah dipecahkan sendirian.

Seperti ditegaskan Peters & Besley (2014), resiliensi bisa tumbuh lewat pendidikan, terapi, dan dukungan sosial yang tepat, bahkan bagi mereka yang hidup dalam kondisi penuh trauma.

Wanita mandiri itu luar biasa. Tapi ingat, hidup bukan sekadar bertahan.

Kalau kamu pernah merasa terjebak dalam survival mode karena fatherless, itu bukan akhir cerita.

Kamu juga pantas merasa aman, dicintai, dan tenang.(*/KN)

Editor: Ipik G

Survival Mode

Baca Juga