
KALIMANTAN NEWS – Penyakit ginjal tidak lagi identik dengan usia lanjut.
Fenomena ini mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang masih berada di usia produktif.
Para pakar mengingatkan bahwa gaya hidup modern yang tidak sehat menjadi pemicu utama.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit ginjal kronis (CKD) di Indonesia mencapai 0,5 persen pada kelompok usia 18–59 tahun, naik dari 0,2 persen pada 2013.
Mayoritas penderita berada pada usia produktif dengan rata-rata usia 44 tahun.
Meski angka ini terlihat kecil, berbagai jurnal medis menekankan bahwa kasus pada usia muda sering tidak terdeteksi karena gejala awalnya kerap diabaikan.
Di sisi lain, jumlah pasien CKD yang menjalani hemodialisis di Indonesia melonjak tajam.
Setelah adanya jaminan kesehatan nasional pada 2014, jumlah pasien CKD yang menjalani cuci darah meningkat 84 persen dalam lima tahun, mencapai 132.000 orang pada tahun 2018.
Fenomena ini juga terjadi secara global.
Data dari Global Burden of Disease Study mencatat bahwa lebih dari 850 juta orang di dunia hidup dengan penyakit ginjal, atau lebih dari 10 persen populasi global.
Angka ini meningkat hampir 30 persen sejak 1990, dengan sekitar 700 juta kasus CKD pada 2017 dan lebih dari 1,2 juta kematian akibat penyakit ini setiap tahunnya.
Khusus pada generasi muda, insiden CKD usia 15–39 tahun meningkat dari 25 kasus per 100.000 penduduk (1990) menjadi 32 kasus per 100.000 (2019).