
KALIMANTAN NEWS – ERC atau kondisi darurat bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja.
Mulai dari kecelakaan lalu lintas, kebakaran permukiman, hingga banjir yang menjadi langganan warga misalnya dalam wilayah tertentu.
Dalam situasi seperti ini, akses informasi real-time sangatlah krusial untuk menyelamatkan nyawa dan meminimalisasi kerugian.
Di tengah tingginya potensi bencana dan kecelakaan, keberadaan grup ERC Respon menjadi salah satu inisiatif berbasis komunitas yang semakin penting.
Melalui platform digital seperti WhatsApp dan Telegram, grup ini mempercepat penyebaran informasi darurat secara langsung dari warga ke warga, bahkan sebelum aparat resmi datang ke lokasi.
Ambil contoh misalnya di sebuah kota yakni Banjarmasin, dengan jumlah penduduk lebih dari 700 ribu jiwa dan mobilitas lalu lintas yang padat, memang rawan kecelakaan.
Data Satlantas Polresta Banjarmasin mencatat rata-rata 5–6 kasus kecelakaan lalu lintas terjadi setiap hari di wilayah kota.
Sementara itu, pada momen Operasi Ketupat 2025 lalu, Ditlantas Polda Kalsel mencatat 27 kasus kecelakaan lalu lintas hanya dalam waktu 13 hari, dengan korban meninggal dunia mencapai 10 orang.
Angka ini menunjukkan betapa tingginya risiko keselamatan di jalan raya.
Tidak hanya kecelakaan, kasus kebakaran juga kerap melanda Banjarmasin.
Berdasarkan data BPBD Kota Banjarmasin, sepanjang 2024 terjadi lebih dari 134 kasus kebakaran dengan ratusan kepala keluarga terdampak.
Bahkan dalam periode Januari hingga April 2025, sudah ada 44 kasus kebakaran tercatat, yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil besar.