
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, Indonesia mencatat 516 ribu kasus perceraian.
Dari jumlah tersebut, 11,6 persen di antaranya disebabkan oleh perselingkuhan, baik dari pihak suami maupun istri.
Angka ini menunjukkan bahwa selingkuh bukan masalah sepele, melainkan faktor serius yang memengaruhi keutuhan rumah tangga.
Jika selingkuh dipicu luka batin atau gangguan psikologis, penting mencari bantuan profesional.
Terapi bisa membantu membentuk pola yang lebih sehat.
Bicara jujur tentang kebutuhan emosional dan rasa tidak nyaman dapat menjadi langkah awal memperbaiki hubungan.
Menjaga jarak sehat dengan orang lain di luar pasangan adalah cara mencegah godaan berkembang.
Fokus pada keintiman, rasa saling menghargai, dan kebersamaan. Hubungan yang sehat jadi benteng utama melawan perselingkuhan.
Jika konflik berulang, konseling pasangan bisa membantu mengurai akar masalah dan mencari solusi lebih konstruktif.
Jadi, selingkuh bukan hanya sekadar masalah cinta atau kesetiaan. Dari kacamata psikologi, ini bisa jadi alarm adanya luka batin atau gangguan kepribadian yang perlu diperhatikan lebih serius.(*/KN)
Editor: Zulvan R