4. Over-achiever, membuktikan diri lewat prestasi, tapi rentan burnout.
McLanahan, Tach, & Schneider (2013) bahkan menyebutkan bahwa dampak fatherless tidak hanya terbatas pada masa kanak-kanak.
Akan tetapi berlanjut hingga dewasa, memengaruhi hubungan interpersonal dan kepercayaan diri.
Survival mode ini bikin mereka terlihat hebat, tapi sering kali kebahagiaan pribadi jadi taruhannya.
Dalam hubungan, bisa tampak dingin atau terlalu mandiri.
Padahal sebenarnya butuh kasih sayang, hanya saja sulit mempercayai.
Dalam karier bisa jadi sukses, produktif, tapi gampang lelah karena energi habis untuk bertahan, bukan menikmati.
Namun Dalam diri sendiri, sering merasa kosong, walau dari luar tampak baik-baik saja.
Sarkadi et al. (2008) menemukan bahwa kehadiran ayah yang suportif berhubungan positif dengan perkembangan emosi dan rasa aman anak.
Ketika hal ini hilang, dampaknya bisa terasa sampai dewasa.
Berita baiknya, pola ini bisa diputus. Beberapa langkah yang bisa ditempuh:
1. Inner healing, sadari bahwa luka masa lalu membentuk kita, tapi tidak harus mengendalikan masa depan.